0 item in the bag

No products in the cart.

Eceran dan Grosir Pakaian Ikhwan

Shilah bin Asyyam al-Adawi

“Shilah bin Asyyam menimba ilmu dari para shahabat utama, tumbuh dalam bimbingan mereka dan berakhlak mereka”

(Al-Ashbahani)

Shilah bin Asyyam adalah seorang ahli ibadah, gemar shalat di malam hari dan menjadi pahlawan di siang hari.

Jika malam telah merata kegelapannya, orang-orang mulai merebahkan lambung di ranjangnya, beliau bangun, memperbagus wudhu lalu berdiri di mihrabnya, memulai shalatnya dengan penuh khusyu’ di hadapan Rabb-nya.

Jiwanya memancarkan cahaya Ilahi yang menyinari bahisrahnya, diperlihatkan kepadanya tanda-tanda kekuasaan Allah di seluruh ufuk. Beliau amat gemar membaca Al-Qur’an di waktu fajar. Ketika malam memasuki sepertiga yang terakhir beliau tilawah Al-Qur’an hingga beberapa juz, dengan suara merdu dan perasaan haru.

Terkadang beliau merasakan betapa manisnya Al-Qur’an menyentuh seluruh relung-relung di hatinya, menggugah akalnya yang jernih untuk merasakan rasa takutnya kepada Allah, seringkali pula beliau merasakan betapa Al-Qur’an mampu membersihkan karat hatinya.

Shilah bin Asyyam menunaikan ibadahnya itu secara tertib. Tak ada bedanya bagi beliau, baik ketika tinggal di kotanya atau saat berpergian, dalam waktu-waktu sibuk ataupun di saat senggang.

Ja’far bin Zaid menuturkan kisahnya, “Ketika kami keluar bersama pasukan kaum muslimin menuju kota Kabul dan berharap semoga Allah menganugerahkan kemenangan melalui tangan kami. Di antara pasukan tersebut terdapat pula Shilah bin Asyyam.

Ketika malam berangsur gelap sedang kami berada pada suatu jalan, pasukan berhenti untuk merasakan makanan yang mereka bawa dan menunaikan shalat isya’. Setelah itu seluruh pasukan menuju ke tenda masing-masing untuk melepas lelah.

Saat itulah aku melihat Shilah bin Asyyam pergi ke tendanya seperti yang lain, lalu merebahkan diri seperti yang lain pula. Aku berkata dalam  hati, “Mana bukti kemasyhuran shalat dan ibadah orang ini, yang dikatakan sampai kakinya bengkak-bengkak itu? Demi Allah aku akan mengawasinya terus malam ini untuk membuktikannya.”

Terlihat seluruh pasukan telah tertidur, aku  melihat Shilah bangkit lalu keluar dari perkemahan. Beliau menembus kegelapan yang pekat menuju hutan yang lebat pohonnya, rimbun daunnya, rumput-rumputnya tebal dan tajam pertanda sudah lama tidak dijarah manusia. Aku menguntitnya dari belakang.

Sampailah beliau di suatu tempat yang sunyi, beliau mencari arah kiblat, menghadap ke sana, bertakbir dan tenggelam dalam shalatnya. Aku memperhatikannya dari jauh, kulihat cahaya memancar dari wajahnya, tenang seluruh anggota badannya, khusyu’ sepenuh jiwanya. Seakan tempat yang rawan menjadi taman yang nyaman, yang jauh terasa dekat dan kegelapan bagai cahaya yang terang benderang.

Beberapa saat beliau dalam keadaan seperti itu… tiba-tiba muncullah seekor singa dari arah hutan sebelah timur. Begitu menyadari apa yang aku lihat, rasa gentar dan panik menimpa hatiku, lalu aku memanjat sebuah pohon yang tinggi agar terhindar dari kebuasannya.

Singa itu mendekat ke arah Shilah bin Asyyam, sementara dia makin hanyut dalam shalatnya. Hingga tinggal beberapa langkah lagi jarak singa darinya…demi Allah, sama sekali dia tidak menoleh kepadanya, tak menghiraukan kehadirannya. Begitu beliau sujud, aku bergumam, “Sekarang pasti dia diterkam.”

Lalu beliau bangkit dari sujudnya dan duduk, sementara singa itu masih terpaku di hadapannya, seakan memperhatikan gerak-geriknya. Usai salam, Ibnu Asyyam menoleh ke arah singa tersebut dengan tenang. Dari kedua bibirnya bergumam kata-kata yang tak dapat kudengar. Tiba-tiba saja singa itu berbalik, melangkah pelan menuju ke arah di mana ia datang.

Fajar mulai menyingsing, beliau tunaikan sekaligus shalat fardhunya. Setelah itu mengucpkan syukur kepada Allah dengan puji-pujian yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Setelah itu beliau berdo’a, “Ya Allah, aku mohon kepada-Mu, selamatkanlah aku dari api neraka. Namun patutkan hamba yang penuh dosa seperti aku ini minta dimasukkan ke dalam surga?” kata-kata ini diulang-ulang hingga bercucuran air matanya. Aku yang melihatnya turut menangis karenanya.

Setelah itu beliau kembali ke tengah pasukan tanpa diketahui seorangpun. Tampak di mata mereka seakan-akan dia baru tidur pulas di atas kasur. Aku turut kembali di belakangnya, membawa rasa kantuk karena begadang malam…tubuh lemas…ketakutan terhadap singa… hanya Allah yang tahu.

Dengan segala prestasi tersebut, Shilah bin Asyyam tidak pula menyia-nyiakan kesempatan untuk memberikan peringatan dan nasihat-nasihatnya setiap kali ada peluang. Metode yang beliau tempuh untuk menyeru manusia ke jalan Rabb-nya adalah memberikan nasihat dengan hikmah dan peringatan  yang baik, menundukkan jiwa yang angkuh dan melunakkan hati yang keras.

Sebagai contohnya adalah tatkala beliau keluar di sebuah daratan di pinggir kota Bashrah untuk berkhalwat dan beribadah, lewatlah rombongan pemuda yang menuruti hawa  nafsu. Mereka berfoya-foya, bersenda gurau dan menari-nari tidak karuan. Menghadapi yang demikian, beliau  memberi salam yang halus lalu berbicara kepada mereka dan penuh kasih, “Bagaimana pendapat kalian tentang suatu kaum yang sedang menempuh perjalanan untuk urusan yang sangat penting, namun di siang hari mereka membelok dari jalan tersebut untuk berfoya-foya dan bermain-main, sedangkan malam harinya ia tertidur lelap, lantas kapankah perjalanan mereka sampai ke tempat tujuan?” beliau selalu mengulangi peringatan tersebut setiap kali bertemu mereka.

Pemuda itu berkata, “Do’akanlah saya, semoga Allah membalas Anda dengan lebih baik.” Shilah berdo’a untuk pemuda tersebut, “Semoga Allah menaruh di hatimu semangat untuk mendapatkan kenikmatan yang kekal, dan menjadikan dirimu zuhud terhadap yang fana, memberikan karunia berupa keyakinan yang menyenangkan jiwa dan menolongmu untuk menjalankan agamamu.”

Shilah bin Asyyam memiliki sepupu perempuan bernama Mu’azah Al-Adawiyah. Beliau juga termasuk tabi’iyah seperti Shilah, karena sering bertemu dengan Aisyah dan menimba ilmu darinya. Dia juga bertemu Hasan Al-Bashri dan mendengarkan banyak hal darinya.

Mu’azhah adalah wanita bertakwa dan suci hatinya, tekun beribadah dan zuhud terhadap dunia. Sudah menjadi kebiasaan beliau, ketika malam tiba berkata, “Boleh jadi malam ini adalah malam terakhir bagiku” lalu beliau tidak tidur sampai fajar. Jika siang hari beliau berkata, “Barangkali hari ini adalah hari terakhir bagiku.” Kemudian beliau memanfaatkan hari itu untuk beramal shalih, sedangkan waktu malam yang sunyi digunakannya untuk melakukan shalat dan taqarrub kepada Allah.

Bila rasa kantuk mendatanginya, beliau berusaha berdiri dan berjalan mondar-mandir di rumahnya seraya bersyair:

Di depanmu wahai jiwa, ada masa tidur yang panjang. Kelak akan berbaring di kuburan Mungkin dalam kesengsaraan atau dalam keberuntungan Maka pilihlah hari ini wahai Mu’azhah, Apa yang engkau pilih untuk esok.

Dengan sifat zuhudnya terhadap dunia dan ketekunannya dalam beribadah, Shilah bin Asyyam tidak berarti meninggalkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menikah. Beliau menikah dengan Mu’azhah Al-Adawiyah. Pada malam pernikahan, keponakannya membawa beliau ke pemandian panas, lalu memasukkan dia ke rumah yang bagus dan wangi. Ketika dua mempelai telah bersama, Shilah shalat sunnah dua raka’at sedangkan Mu’azhah bermakmum di belakangnya. Hanyut oleh kekhusyuan shalat, keduanya shalat hingga menjelang fajar. Keesokan harinya putra pamannya datang seraya berkata, “Wahai putra pamanku, engkau telah mendapatkan hadiah putri pamanmu, tapi engkau tinggalkan dia, engkau shalat semalam suntuk.”

Beliau menjawab, “Engkau mengajakku masuk ke tempat yang membuatku ingat neraka. Setelah itu engkau mengajakku ke ruangan yang membuatku ingat surga. Maka pikiranku terbelah dua hingga pagi.”

Keponakannya bertanya, “Tempat manakah yang Anda maksudkan wahai pamanku?” beliau berkata, “Kemarin engkau bawa aku ke pemandian panas, maka aku ingat akan panasnya jahannam. Kemudian engkau masukkan aku ke kamar pengantin, maka aku ingat akan wewangian surga…”

Shilah bin Asyyam bukan sekedar seorang ahli ibadah, banyak taubat dan zuhud, tetapi juga seorang mujahid dan pahlawan yang tangkas dan tangguh. Setiap pemimpin mengharapkan dia bergabung dalam pasukannya. Masing-masing ingin memetik keutamaan dari tekad dan keberaniannya.

Ja’far bin Zaid menuturkan kisahnya, “Kami berangkat dalam sebuah peperangan, sementara Shilah bin Asyyam dan Hisyam bin Amir berada dalam regu kami. Begitu berhadapan dengan pasukan musuh, Shilah dan temannya itu langsung menerjang dan masuk di tengah-tengah mereka. Membabatkan pedang ke kanan dan ke kiri dengan tangkas hingga musuh kocar-kacir.

Para pemimpin musuh berkata satu sama lain, “Dua muslim saja cukup memporak-porandakan kita, bagaimana jadinya jika semua terjun dalam kancah perang? Maka menyerahlah kepada mereka dan tunduklah kepada mereka.”

Tahun 76 Hijriyah, Shilah bin Asyyam turut serta dalam pasukan muslimin yang bergerak menuju daerah seberang sungai (Turkistan) disertai oleh putranya. Tatkala dua pasukan telah berhadapan dan perang telah berkobar, Shilah berkata kepada putranya, “Wahai putraku, majulah dahulu dan gempurlah musuh-musuh Allah itu agar aku bisa mengorbankan dirimu kepada-Nya demi ridha-Nya dan tidak hilang segala titipan-Nya.”

Dengan segera bersegeralah pemuda tersebut terjun ke medan perang bagaikan anak panah terlepas dari busurnya. Dia terus berperang hingga akhirnya tersungkur syahid. Kemudian ayahnya menyusul memasuki kancah peperangan dan berjuang hingga syahid di sisi putranya.

Begitu berita gugurnya bapak dan anak itu sampai di Basharah, para wanita mendatangi Mu’azhah Al-Adawiyah untuk berbelasungkawa. Namun Mu’azhah berkata, “Bila kalian kemari untuk mengucapkan selamat, maka aku sambut kedatangan kalian, namun jika kalian datang untuk yang lain (berbelasungkawa), maka sebaiknya kalian kembali, semoga Allah membalas kebaikan kalian.”

Semoga Allah menggembirakan wajah-wajah yang mulia ini. Yang tak segan-segan mengorbankan dirinya demi Islam dan kaum muslimin. Sejarah telah mencatat, tidak ada lagi manusia yang lebih bertakwa dan lebih suci dari mereka setelahnya.

 

Sumber:

Buku “Mereka adalah Para Tabi’in”

Penerbit: Pustaka At-Tibyan

Penulis: DR. Abdurrahman Ra’fat Al-Bassya

 

Leave a response